Nama ku Dwi, ku orang yang jail, baek, enak di ajak ngobrol, tapi ku orang yang gampang marah jika diriku di hina. Ku masih duduk di bangku SMP di daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan. Ku mempunyai 4 orang sahabat, yaitu Ria, Umi, Fatimah dan Anang. Ria adalah seorang cewek yang gampang di godai, secara fisik Ria itu cantik, berambut panjang, baik, tapi dia sangat minim pengalaman berpacaran. Umi adalah seorang cewek yang serius, gak bisa di ajak bercanda, n orang’a kesinggungan, maka’a Anang jarang bahkan ga pernah godain Umi. Fatimah sama kaya Umi, orang’a gampang banget kesinggung tapi Fatimah asyik di ajak ngobrol, nyambung, dan bisa lah di ajak bercanda walaupun jarang. Nah kalau Anang, anak yang super jail, lucu, asyik, itulah yang kami suka dari Anang.
Di Kelas
Pukul 06.45, ku baru sampai di sekolah. Ketika ku masuk ke dalam kelas, ku mendapati teman-temanku sedang membicarakan seorang murid yang baru di sekolah kami dan duduk di salah satu kelas yang ada di sekolah kami. Aku pun langsung menuju tempat duduk ku, tak lama ku duduk, Anang menghampiriku dan langsung duduk di bangku sebelahku.
“Koq baru nyampe, wie……?” Tanya Anang
“Lah kan emang biasanya ku datang jam segini kalo ga ada jadwal piket” Jawabku
“Oh ya wie, loe udah liat anak baru yang lagi booming, belum…..?!” Ucap Anang sambil melihat ke wajahku.
“Belum, mang apa pentingnya buat ku?!” Tanya Ku pada Anang
“Ya, coba aja kamu liat. Dia duduk di kelas 2-5, namanya Adith, orangnya ganteng wie, py lebih ganteng gw dari pada Adith” Ucap Anang dengan PD-nya.
“Lu mau ngeliat Adith ga wie? Klo mau ayo gw anterin. Cepetan, tar keburu bel masuk bunyi!!!
Sebener’a ku males banget menemui’a, py demi sahabat apa salah’a sie?! Ku dan Anang pun mulai berjalan menuju kelas 2-5, kelas yang terkenal kebersihannya. Tak berapa lama Ku dan Anang pun sampai di depan kelas 2-5, betapa kagetnya aku ketika melihat cowok itu. Ku pernah bertemu dengannya (Adith), ketika Ku lagi beli buku di Mall Cilandak. Saat Ku sedang mengingat-ngingat memory bertemunya Ku dengan Adith, tiba-tiba bel masuk pun berbunyi, dan tanganku di tarik oleh Anang. Di dalam kelas ku tidak konsen dalam pelajaran, otakku berusaha mengingat-ingat waktu Ku bertemu Adith.
“Tok…tok…tok…” suara pintu berbunyi.
“Masuk aja” Teriak anak-anak.
“Muph, mau ngambil absent” terdengar suara laki-laki di depan pintu.
“Masuk aja, absennya ambil sendiri ma sekretarisnya tuh” Celetuk Hery
Suasana menjadi histeris ketika yang masuk dan mengambil absennya adalah Adith si anak baru yang lagi booming di bicarakan.
“Di mana ya, sekretaris’a?” Tanya Adith
“Tuh di belakang yang duduk sendirian” Sahut Hery
“Muph, boleh minta absennya?” Ucap Adith
Karena asyiknya Ku melamun, sampai-sampai Ku tak mendengar ada orang yang memanggilku. Ku tersadar ketika ada salah satu temanku yang melemparku pakai hapusan.
“Woy wie, kasih tuh absennya. Jangan lu ketekin terus” Ucap Kiki sambil diiringi ketawa anak-anak.
“Hah? Absen?” Ucap dwie karena kagetnya
Sontak tanganku mencari-cari absent yang di maksud, setelah menemukan’a dan ketika ku ingin menyerahkan absent itu kepada orang yang meminta, dan lebih kaget’a lagi ketika ku melihat yang meminta adalah Adith, dan Adith pun sampai bengong melihat wajaku.
“Kamu?” Ucap Adith sambil menunjuk tangan ke arahku.
Anak seisi kelas bertanya-tanya setelah tau bahwa Adith mengenali wajahku. Ku pun segera mencairkan suasana.
“Udah sana anterin dulu absennya nanti di omelin Guru Piket loh” Ujarku
“Ok! Thanks ya” Jawab Adith sambil berjalan keluar kelas
Tak berapa lama Adith keluar, teman-temanku pada mengerubutiku. Dan mereka bertanya : Dari kapan Ku mengenal Adith? Kenal Adith dimana? Koq bisa kenal Adith, gimana cara’a? dan berderet-deret pertanyaan yang diajukan kepadaku tentang Adith. Ku hanya bisa menjawab “Rahasia donk, mau tau aja urusan orang”, palaku langsung di jitak oleh teman-temanku. Sedangkan sahabatku malah tertawa-tawa melihat palaku habis-habisan dijitakin anak-anak sekelas.
Setelah menunggu hampir 3 jam, suara bel pun berbunyi yang menandakan bahwa jam pelajaran telah selesai, dan waktunya anak-anak pulang. Ku dan sahabat-sahabatku pulang belakangan, karena ku malas kalau harus berkerumunan sama anak kelas 1, 2, dan 3. Bayangin aja berapa penuhnya jika kelas 1, 2, dan 3 itu ada 8 kelas masing-masing dan 1 kelasnya itu ada 40 siswa, beratus-ratus anak yang ingin memakai tangga. Setelah yakin kalau sebagian anak udah pulang, aku dan sahabat-sahabatku baru keluar kelas dan ke kantin untuk membeli es teh susu kesukaan kami. Saking enaknya, ku menikmati es teh susu dan siomay ku tak sadar kalau Adith menghampiriku.
“Hai, pa kabar?” Tanya Adith
“Apa? Kabar bae koq” Jawabku terbata-bata
“Oh ya, namaku Adith. Nama kamu siapa?” Tanya dia sambil memberikan tangannya padaku.
“Namaku Dwie” Jawabku singkat
“Btw thank’s yua, c0z waktu itu kamu udah memberikan kamus’a padaku” Ujarnya
“Sama-sama, nyantai aja kali. Oh ya, sampai lupa. Kenalin nych mereka sahabat” ku, nama’a Ria, Umi, Fatimah, dan yang paling cantik sendiri adalah Anang” ucapku sambil di iringi tawa sahabat” ku.
15 menit kemudian ku dan sahabat” ku pulang, ku pun berpamitan pada Adith.
“Ku bakil duluan yua, dit.” Kataku sambil berdiri
“Ku anterin yua? Please mau, yua?” Pintanya penuh harap.
Ku pun memandangi sahabat” ku dan meminta jawaban dari mereka, sahabatku pun menganggukan kepalanya, yang mengisyaratkan kalo mereka mengijinkan ku pulang dengan Adith.
“Ok! Ku mau pulang sama kamu.” Jawabku
“Thank’s yua semuanya” Ucap terima kasih dy ke teman” ku.
“Ya udh sana, py langsung anterin pulang. Awas klo di ajak jalan dulu” Ancam Anang
“Beres b0z, kita duluan yua?” Ucap Adith pada sahabat” ku.
Selama di perjalanan Ku diam seribu bahasa, Adith pun konsen ke Jalanan, Adith paling ga suka kalo di ajak ngobrol saat mengendarai motor. 20 menit kemudian ku pun sampai di rumah, dan mengajaknya masuk dulu ke rumah ku. Py dy menolak dan dy langung pamit untuk pulang. Setelah Adith sudah jauh meninggalkan rumahku, Ku pun langsung masuk ke dalam dan mengganti bajuku, lalu makan dan istirahat sebentar sambil mengingat-ingat pertemuanku dengan Adith.
Pertemuanku dengan Adith berawal Seminggu yang lalu. Ketika Ku sedang jalan” ke Mall Cilandak bersama kakak dan sepupu ku. Seperti biasanya, sesampainya di dalam Mall Ku pun langsung menuju Toko Buku, Aku berpisah dengan kakak dan sepupuku dan berjanji ketemu 2 jam lagi di KFC. Setelah berpisah Ku pun langsung menuju ke Tobuk Kharisma, dan mencari-cari Buku Matematika Terbaru, mataku mulai mencari buku apa yang ingin ku beli. Ketika Ku ingin mengambil buku itu, tiba-tiba ada seorang cowok yang ingin mengambil buku itu juga, Ku pun berebutan buku dengan cowok itu, hingga akhirnya kami pun memutuskan untuk bertanya pada karyawan Tobuk tersebut, apakah buku yang ingin kami beli masih ada stok lagi. Dan sialnya buku itu tinggal satu” na, setelah ku melihat wajah cwo itu yang memelas, Ku pun tak tega melihatnya dan memberikan buku itu kepada dy (cwo itu). Cwo itu pun langsung mengucapkan terima kasih dan langsung pergi meninggalkanku.
Dari pada Ku pulang dengan tangan kosong, Akhirnya Ku pun memutuskan untuk membeli n0vel, yua untuk menambah koleksi n0velku aja. Setelah Ku menemukan n0vel apa yang ingin Ku beli, Ku pun menuju kasir dan membayar sejumlah harga yang tertulis pada buku tersebut. Lalu Ku mengambil handphone di kantong celana, dan memencet numb kk qw.
“Halo, ka di mana?!” Tanya ku
“Di Valus nych, kenapa?” Ujar kakak sambil bertanya pada Ku.
“Yua udh, wie ke Valus dweh! Tunggu, awas jangan kabur loch” Ucapku
“Yua, ade ku sayang” Jawabnya mengakhiri percakapan.
Tak berapa lama ku sampai di Valus, kami pun berencana untuk makan di KFC. Yua tempat kesukaan aku dan kakak kalo mau makan, kita lebih suka makan di KFC dari pada MC Donald. Kami pun mencari tempat duduk yang di pojok dan untuk 4 orang, setelah kami menemukan tempat duduk’a, lagi” aku juga yang disuruh memesan makanannya 4 Paket Panas. Ku pun berjalan menuju Kasir, untuk memesan 4 Paket Panas dan 2 Kentang. Ketika ku sedang mengantri, ku di serobot sama seorang cwo, dan setelah ku liat eh ternyata tuh cwo sama yang nyerobot buku yang mau ku beli. Akhir’a ku ngalah sama dy, dan membiarkan dy memesan makanan’a duluan. Ku pun memesan makananan ku, dan membawanya ke tempat duduk ku. Setelah makan kami pun memutuskan untuk pulang, supaya ga kesorean dan ga di omelin sama bonyok